Indahnya jalur alternatif Ponorogo – Pacitan

kembali dalam agenda rea reo, kali ini sugimasihada bener-bener merencanakan untuk rea-reo sekedar mengenal wilayah yang nantinya akan akrab dan kerap sekali sugimasihada kunjungi dalam rangka menjalin tali silaturahmi…

kali ini sugimasihada melakukan perjalanan rea-reo dari Madiun ke Ponorogo dan kebablas (digunakan karena belum menemukan arti yg sesuai dalam bahasa Indonesia) hingga menuju Pacitan, tepatnya tadi Jum’at 6 September 2013 lepas dari Madiun kisaran pukul 7(tujuh) pagi sudah menjamah aspal keluar kota Gadis menuju kota Reog…

seperti halnya kondisi aspal jalan-jalan kota ke kota di dalam Propinsi Jawa Timur jalur Madiun menuju Ponorogo bisa sugimasihada tempuh dengan kurun waktu kurang dari 1(satu) jam…

baru sedikit menarik dan mengalihkan perhatian ketika sengaja kebablas dai Kota Reog menuju Kota 1001 Gua…

yang pertamax adalah ketika memasuki 70km sebelum kota Pacitan bertemu lokasi yang bikin perhatian lebih ketika berkendara, yakni jembatan putus…

ndak tau sebabnya, tapi sempat menyimak didalam media cetak dan elektronik ada jembatan putus di jalur alternatih dari Ponorogo menuju Pacitan…yak mungkin ini adalah jembatannya, yang penangannanya menjadi sedikit perdebatan untuk yang bertanggungjawab apakah pihak dari Propinsi atau Kota yang bersangkutan dimana jembatan berada

yang keduax adalah panorama pemandangan jalur Ponorogo menuju Pacitan, sugimasihada baru kali ini melihat jalur seperti ini….

berliuk dan berbelok-belok lebih panjang melebihi jalur yang biasa sugimasihada tempuh dari kota Tahu ke kota Bunga lewat Kasembon…

sepanjang jalan disuguhi pemandangan sungai, bukit gersang dan padas yang siap longsor ketika hujan di beberapa titik tertentu…hmmmm…indah…sungguh indah cara yang ditunjukkan oleh Tuhan dengaan memadukan warna kecoklatan berpadu keabu-abuan dalam gersang tebing kering dengan balutan hijau daun pohon menjulang diatas langit cerah yang berwarna biru…tanpa kurang satu apapun, Sempurna adalah Milik-Nya….

dan yang ketigax adalah penanganan pelebaran jalan dengan membelah bukit di kisaran tegalombo…

kordinat lokasi pelebaran jalan
kordinat lokasi pelebaran jalan

sempat sedikit putus asa ketika tiba-tiba kendaraan didepan berhenti berjajar, sempat juga berasumsi Negatif apa yang terjadi…

tapi semuanya sirna ketika sugimasihada menelusuri kedepan ujung kemacetan berganti dengan decak kagum terhadap lagi-lagi pemandangan yang belum pernah sugimasihada saksikan dengan mata telanjang sendiri….

pelebaran jalan dengan memecah bukit menggunakan peralatan besar (belum tau apa namanya) menghentikan seluruh kendaraan yang akan melintas…

hmmmm….lagi lagi lukisan Yang Maha Sempurna berada diluar kanvas dan pigora ditorehkan nyata didepan mata…dengan sedikit suara deras percikan air sungai dan menggemanya suara mesin pemecah batu terpadu membawa sugimasihada dalam lamunan hingga waktu 1(satu) jam menunggu giliran antrian tidak terasa…

jadi kebayang terus kapan lagi bisa melintasi jalur ini (segera agendakan lagi aaah)…

sempat ada bisikan ejekan sedikit dari petugas penjaga pintu “kalo melintas pada jam coffe break dan istirahat pasti tidak akan ngantri mas…”…tapi bagi sugimasihada itu adalah petunjuk untuk bisa menikmati lebih lama lagi keindahan dan panorama jalur tegalombo yang masih dalam proses pelebaran jalan…

bagi yang tetep terjebak dalam pikiran tidak mau terlibat macet dan tidak ingin menikmani sejenak Anugrah bisa memecahkan ejekan tersebut diatas agar tepat ketika sampai di jalur ini menunggu antriannya tidak terlalu lama….

hmmmm….semoga bermanfaat monggo yang ingin memaki dan suka hati sila isi komentarnya… *kalem

Iklan

30 tanggapan untuk “Indahnya jalur alternatif Ponorogo – Pacitan

  1. 2005 pernah touring sampai ponorogo , pas pulang dari malang menuju jogja …………………….. kuliner & suasana kota di malam hari maknyusss

    btw kebablas iku boso indonesia ne ke jauhan mas :mrgreen:

    Suka

  2. meskipun saya dulu tinggal dan sekolah SMA di ponorogo,tapi blm pernah sekalipun ke Pacitan…
    kalau ke arah magetan lewat babadan malah sering..
    dan sekali pulang ke jembet lewat t.galek – t.agung- bitar-malang selatan tembus pasirian lumajang jember…cuma 6 jam bawa SUZUKI FD 110 R Motor pertamaku… πŸ™‚

    Suka

  3. wah kl sajaane berat,ya mending ndak usah Mas.eman awak!boleh tau tentang Shooter ndak Mas?kl bwt komuter Blitar-malang-pasuruan masih mumpuni ndak?matur nuwun&maaf.

    Suka

  4. alat pengeruk tanah entu namanya Excavator mas.. klo orang lokalan banyak bilangnya Back Hoe..
    hahaa…
    lanjoot mas,… πŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s